Rumah Campuran Budaya Jawa & Industrial

Saya adalah Nikmah saya hobinya menggeser-geser perabotan dan saya tinggal bersama suami dan 3 anak saya. Rumah ini dibangun dengan mengusung tema Industrial Javanese bukan Japanese, karena ada sentuhan etnik Jawa di beberapa sudut.

Mohon maaf saya tidak bisa tampillkan denah rumah saya. Tapi saya bisa tampilkan eksterior dari rumah saya. Foto di atas adalah foto rumah saya dari luar. Ada pohon mangga yang sudah ada di tanah dari saat kami membeli, dan sekarang sudah setinggi ini.

Letaknya di tengah-tengah teras rumah kami, awalnya pembangunnya menyarankan untuk menebang pohon ini, tapi saya dan mas suami alhamdulillah sepaham, memutuskan untuk mempertahankan. Butuh waktu lama dia bisa setinggi ini, dan sedih rasanya kalau harus di tebang.

Pohon mangga ini bikin suasana depan rumah ini jadi hijau diantara penampakan warna monochrome.

Area Masuk 

 

Oh ya pohon mangga ini yang nampak dari fasad rumah ini, kalo dari dalam rumah, dia berdiri tepat di tengah-tengah teras, makanya pak pembangunannya kemarin sempet menyarankan buat ditebang.Tapi alhamdulillah sejauh ini kami bersyukur tetap mempertahankannya, karena terbukti bikin adem rumah. Kami juga sudah berusaha menanam pohon peneduh di samping rumah, tapi tentu saja butuh waktu yang ga sebentar untuk bisa serindang pohon mangga yang di teras.

 

Pintu utama rumah ini requestnya suami saya. Dari dulu mas suami ingin punya pintu banyak kacanya, tapi rumah pertama, dan kedua (sudah dijual semua) saat itu saya kurang setuju, karena anak-anak masih kecil, resiko nabrak pintu atau nutup terlalu kencang masih besar. Tapi, Alhamdulillah untuk rumah ketiga yang kami bangun sekarang ini anak-anak sudah besar dan memungkinkan buat dibikin pintu kaca idaman suami.

 

Ruang Tamu

 

Ini adalah area ruang tamu. Lantainya adalah kombinasi granit motif tegel jadul dengan lantai semen ekspos. Mungkin bisa jd inspirasi yang baru bangun rumah atau sedang renov rumahnya. Saya mensyukuri ruang tamu yang sudah mulai ramai, karena tetangga2 offline sudah punya keberanian untuk saling bersilaturahmi kembali karena sudah vaksin lengkap dan telah dinyatakan zona hijau.

 

Dari sudut ini tampak dua pintu di rumah ini , satu Barn Door Slide (material Jati) akses menuju ke garasi, satunya lagi pintu utama material besi kaca.

 

Area Ruang Makan

 

 

Dari dulu tiap bikin layout rumah, berusaha tidak ingin ruang makan dan dapur itu keliatan dari ruang tamu. Kenapa? Karena pernah dulu pas tinggal di rumah yg kami sewa(ruang tamu lurus sama ruang makan), baru pada sarapan, ada tamu dateng, duh kikuk rasanya. Jadi layout ruang tamu sama ruang makan diniatin belok ( tidak lurus). Tapi qodarullah pas rumah ini jadi ternyata terpampang nyata ruang makan dan dapurnya dari ruang tamu.

 

Area Dapur

 

Waktu kecil tiap liat rumah orang bule itu noticed sama keberadaan meja di tengah-tengah dapur yang disebut kitchen island…Pulau nya dapur 🤭 Wah kalau punya rumah nanti, sapa kepengen punya kitchen island juga…cita-citanya begitu. Tapi sampe sekarang belum terwujud, wkwkwk.

Buat menghibur hati, saya geser drawer yang sebelumnya dibawah tangga, jadi di tengah-tengah dapur biar berasa punya kitchen island ala-ala 😅

 

Tentang amabalan ini awalnya masih ragu mau di pasang dua-duanya di atas sink, tapi karena liat suhu-suhu perdekoran banyak yang ambalannya susun dua, jadi saya memberanikan diri mencoba. Walau soal ngedekor ambalannya masih PR banget, tapi alhamdulillah tetep seneng, karena ambalannya bikin di atas sink ga sepi, dan tiap cuci piring baca notes yang saya tulis sendiri.

 

Area Nonton TV

 

 

Ini adalah pojok favorit bersama keluarga. Console TV ini bawaan dari rumah lama tetapi warna kayunya ga pudar, dan hebatnya ini meja walau udah pindah-pindah dari rumah pertama (rumah lama), kedua (rumah sewa selama nunggu rumah selesai d bangun), sampe ketiga ini tapi mejanya alhamdulillah tetep kokoh. Penutup drawernya bisa digeser, isi drawer yang baru ditutup itu ada DVD Player, juga game konsol nya anak-anak. Dibuka kalo baru mau dipakai saja.

 

 

Kelebihan rumah tanpa sekat yang aku rasain sebagai anggota #gesergeserklub adalah memudahkan saat memindahkan furniture dari satu tempat ke tempat lain. Kayak sofa di living room ini, kalau tetiba dikabarin mau ada tamu, bisa langsung aku geser ke ruang tamu. Ruangan juga jadi terasa lebih lega.

 

Sisa tanah disamping rumah difungsikan untuk bikin ring basket karena mas suami dan anak-anak suka banget basket, dan taman rumput biar ada ijo-ijonya. Nah, teras samping ini yang jadi tempat favorit saya duduk buat liat mereka bermain basket. Saya hanyalah tim hore 😁

Carport dan Lapangan Basket

Carport merangkap mini basketball court. Semenjak pandemi gelombang 2.0 ini, aktivitas klub basket anak 3 terpaksa di non aktifkan. Tapi latihan di rumah tetep jalan, program latihan dikirim via wa, anak2 praktek sendiri di rumah. Juga ada sesi via zoomnya. Ide suami untuk membuat carport merangkap mini basketball court ini awalnya sempet saya ragukan, karena ini berarti sisa lahan yang diperuntukkan bangunan rumah akan terbatas. Tp di era pandemi ini baru terasa manfaatnya. Jadi anak-anak tetap bisa melakukan hobi mereka walau masih tetap di rumah saja.

 

Area Tangga

 

Selama rumah dibangun, saya sekeluarga menyewa sebuah rumah dengan dua lantai. Dan momen naek tangga menuju kamar itu momen yang melelahkan. Ternyata itu disebabkan karena ukuran tinggi anak tangga yang tidak tepat. Karena rumah ini memang direncanakan sebagai rumah berlantai dua juga, jadi saya sama mas suami berkonsultasi terlebih dahulu tentang kekhawatiran saya soal tangga. Dan disarankan tinggi tangga adalah 17 cm. Alhamdulillah nya memang tinggi segini pas banget, tiap naik sama sekali nggak berasa ngos-ngosan.

 

Lantai 2

 

Kamar Tidur Utama

 

Kamar utama ini terletak di lantai 2. Wall decor di kamar saya sama mas suami ini hasil DIY terinspirasi sama art bikinan mbak Dita. Makasih mbak untuk inspirasinya 🙂

Walo hasil eksekusinya jauh dari inspirasinya, wkwkwk tapi paling tidak udah ga sepi-sepi banget dinding kamar saya. Saya sekarang ini kayak dipersimpangan gitu, kadang pengen yang less gitu udah ga ada pajangan-pajangan, tapi masih seneng liat yang temboknya rame sama wall decor.😅

 

Area Kerja di Kamar Tidur Utama

 

Sebelum pandemi…dan belum mengenal adanya SFH dan WFH, di rumah memutuskan ga ada meja belajar atau meja kerja. Dikaruniai 3 anak yang gaya belajarnya kinestetik, duduk manis di meja belajar itu seperti sulit sekali. Dulu pernah punya, tapi ya itu karena ga dipake akhirnya dikasihkan ke yang lebih membutuhkan…biar bermanfaat.Tapi ternyata pandemi tak kunjung usai, anak-anak mulai mengeluhkan pegal2 saat mengikuti zoom dalam waktu yang lama dengan lesehan. Akhirnya per September kemarin mulai nyicil tiap ada rejeki meja belajar buat 3 anak dan mas suami. Atas meja masih sepi ya, tapi belum ada ide mau dikasih apa. Antara mau clean, tapi kadang tergoda buat tempel2.

Sudut Ibadah

 

Sudut di lantai 2 rumah ini, saya fungsikan jadi sudut sholat. Karena baratnya nggak siku sama tembok, jadi ya penampakan sajadahnya jadi miring gitu ya.Tembok kosong itu sebenernya kepengen banget saya pajang kaligrafi biar makin menegaskan kalo itu sudut sholat (mau bilang mushola kayaknya masih belum layak ya, karena saya belum menyiapkan ruangan khusus), tapi karena mas suami udah pesen no paku-paku, ada ide kah untuk menghias sudut sholat ini?

 

Epilog

 

Foto penutupan adalah foto kolam ikan kami dengan latar belakang joglo mini. Tour rumah kali ini sudah mencakup keseluruhan ruangan inti pada rumah. Yang tidak kami bagikan adalah 3 kamar anak dan ruang laundry, sisanya sudah kami tampilkan. Terima kasih telah membaca konten tour rumah saya, semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Contact Us